Selasa, 09 Februari 2010

KETERAMPILAN MENYIMAK PADA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA JAWA

Masalah penting yang sering dihadapi dalam kegiatan pembelajaran bahasa Jawa terutama pada bidang menyimak adalah memilih atau menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu siswa mencapai kompetensi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam kurikulum atau silabus, materi bahan ajar hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk “materi pokok”.
Oleh karena itu, guru bahasa Jawa dituntut untuk memilih materi pembelajaran dengan tepat. Ketidak berhasilan guru dalam memilih bahan atau materi simakan akan mengakibatkan siswa kurang dalam mencapai standar kompetensi yang diharapkan.
Dalam menyusun bahan ajar simakan bahasa Jawa harus memperhatikan prinsip-prinsip agar materi simakan yang berperan penting dalam dalam membantu siswa mencapai standar kompetensi terwujud.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan.
Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu diketahui kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru di satu pihak dan harus dipelajari siswa di lain pihak hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk pada standar kompetensi.
Untuk mencapai standar kompetensi tersebut maka lebih baik melihat tentang tujuan seseorang menyimak. Manusia dalam menyimak sesuatu tentu memiliki maksud dan tujuan. Ketika seseorang menyimak sesuatu hal yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuannya maka orang tersebut biasanya kurang tertarik bahkan tidak tertarik sama sekali.
Manusia memiliki alasan mengapa dirinya melakukan kegiatan menyimak, diantaranya adalah untuk mencapai tujuan dalam hidupnya agar lebih baik. Hunt (dalam Tarigan 1980:139) mengemukakan beberapa alasan manusia melakukan menyimak seperti berikut; (1) menyimak karena ingin mengetahui atau mempelajari sesuatu dari bahan simakan, (2) menyimak karena ingin memikat hati orang lain, (3) menyimak karena ingin menjadi sopan dan santun, (4) menyimak karena ingin mencari keuntungan uang, (5) menyimak karena ingin memperoleh manfaat dari bahan simakan, (6) menyimak karena ingin menghilangkan rasa bosan, (7) menyimak karena ingin membandingkan beberapa pendapat, (8) menyimak karena ingin memperluas pandangan dan pengertian, (9) menyimak karena ingin memenuhi rasa ingin tahu, (10) menyimak karena ingin disenangi orang lain.
Penentuan materi yang tepat adalah sesuai dengan tujuan menyimak karena ingin mengetahui atau mempelajari sesuatu dari bahan simakan, menyimak karena ingin memperoleh manfaat dari bahan simakan, menyimak karena ingin memperluas pandangan dan pengertian, menyimak karena ingin memenuhi rasa ingin tahu untuk mencapai suatu tujuan.
Seperti yang pernah dilakukan oleg guru bahasa Jawa SMK Muhammadiyah 2 Semarang. Di SMK Muhammadiyah 2 semarang terdapat tiga program keahlian yaitu tiknik mekanik otomotif, teknik komputer jaringan, dan teknik audio video. Materi yang harus saya ajarkan pada saat itu adalah mendengarkan berita atau dalam bahasa Jawa disebut pawarta ketika itu mencoba mengangkat masalah tentang bagian-bagian yang ada dalam sebuah komputer.
Materi tersebut digunakan dalam pembelajaran bahasa Jawa pada semua program yang terdapat di SMK Muhammadiyah 2 Semarang. Pada kelas TKJ materi simakan tentang bagian-bagian yang ada dalam sebuah komputer yang dikemas menggunakan bahasa Jawa mendapat sambutan yang baik dan siswapun terlihat antusias. Hasil pembelajaran sangat memuaskan hal ini ditunjukkan dengan hasil evaluasi yang menunjukkan dari 34 siswa TKJ hanya ada 1 orang siswa yang nilainya kurang.
Berbeda dengan TKJ di TMO dan TAV tanggapan siswa mengikuti pembelajaran sangat kurang siswa malah terlihat tidak tertarik bahkan cenderung saling berbicara sendiri. Proses pembelajaran menjadi tidak kondusif dan hasilnya juga tidak memuaskan. Pada klelas TMO hanya 7 siswa dari 34 siswa yang nilainya baik atau melebihi standar penilaian yang ditetapkan yang lainnya dibawah standar. Pada kelas TAV juga tidak bnerbeda jauh dengan kelas TMO tetapi agak lebih baik. Terdapat 13 siswa dari 35 siswa yang nilainya memenuhi standar nilai yang ditetapkan yang lain nilainya dibawah standar yang ditetapkan. Kesimpulannya, hasil belajar siswa tidak mencapai standar kompetensi yang diharapkan.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa keberhasilan menyimak juga ditentukan oleh materi pembelajaran disamping faktor-faktor yang lain. Setelah melakukan beberapa evaluasi tentang pembelajaran yang dilakukan kemudian materi simakan diganti dengan cerita rakyat yang ada di daerah setempat. Materi yang diangkat adalah tentang asal-usul nama Jati Ngaleh yang dikemas menggunakan bahasa Jawa. Ternyata, materi tersebut dapat digunakan sebagai alternatif. Terbukti dari hasil pembelajaran di tiga Jurusan pada SMK Muhammadiyah 2 Semarang, hasil belajar siswa dapat memenuhi standar kompetensi seperti yang diharapkan.
Proses pembelajaran menyimak cerita rakyat asal-usul Jatingaleh siswa sangat antusias dan aktif, mereka mendengarkan cerita yang diputar lewat pemutar audio dengan penuh perhatian. Setelah proses pembelajaran selesai dilakukan wawancara dengan beberapa siswa dari yang memperoleh nilai tertinggi, sedang, dan rendah beberapa hal yang ditanyakan diantaranya,(1) apakah kamu senangi dengan bahan simakan tersebut, (2) apakah bahasa yang digunakan dan jalan ceritanya mudah dipahami, (3) apa yang kamu senangi dari bahan simakan, (5) apa yang kamu dapatkan dari materi tersebut.
Jawaban yang diperoleh beberapa siswa dengan beberapa pertanyaan tersebut hampir sama yaitu mereka umumnya senang dengan cerita tersebut, mereka juga merasa mudah memahami jalannya cerita karena menurut mereka bahasa Jawa sudah dan bahkan tiap hari digunakan sendiri dan didengar dari orang lain, kemudian mereka mengatakan hal yang paling disenangi dari cerita tersebut adalah munculnya kejadian-kejadian aneh dan ajaib seperti pohon jati dapat berpindah tempat, kemudian kera dapat diajak berkomunikasi layaknya seorang manusia, dari pertanyaan selanjutnya muncul jawaban bahwa yang didapatkan dari materi simakan tersebut adalah mereka mengetahui asal-usul dan sejarah nama Jati Ngaleh versi cerita rakyat.
Setelah pembelajaran selesai siswa juga diberikan pertanyaan dan sarannya mengenai kriteria bahan ajar yang mereka senangi dengan menuliskannya diselembar kertas. Sambutan siswapun sangat baik dengan menuliskan beberapa kriteria bahan simakan yang menarik bagi mereka. Kebanyakan siswa menuliskan lucu sebagai kriteria pertama, yang kedua adalah yang aneh dan nganeh-anehi misal mengenai hal-hal diluar nalar, terkenal atau serig didengar misal cerita artis, seorang idola, tentang bidang yang digelutinya misal optomotif, komputer, dll, klemudian hal yang bersifat jarang ada dan up to date atau terbaru misal kebijakan-kebijakan pemerintah seperti ditiadakannya UAN, dll.
Sebagai seorang guru yang baik maka harus memperhatikan apa yang diinginkan siswanya. Permasalahannya adalah bagaimana keinginan-keinginan tersebut dapat direalisasikan dengan satu materi bahan simakan. Guru tentu dituntut untuk meramu bagaimana caranya agar hal-hal yang lucu, aneh, sering didengar dan terbaru itu menjadi satu dalam satu materi bahan simakan.
Selain hal tersebut hal yang penting adalah pertimbangan pertimbangan pertama tentu bahan atau materi tersebut tidak akan menjerumuskan siswa dalam hal yang kurang baik, yang kedua adalah karakteristik dari siswa secara individu yang berbeda baik keterampilan, minat, bakat, dll, tidak melanggar norma kesusilaan, bagaimana alokasi waktu apakah bahan atau materi simakan tersebut panjang hingga menghabiskan alokasi jam pelajaran sehingga evaluasi tidak dialkukan, dan apakah materi tersebut sangat cepat dan siswa merasa kurang mengena, dll.
Setelah bahan simakan jadi atau terbentuk guru juga harus melakukan pertimbangan lagi dengan cara mencocokannya dengan kurikulum, silabus, standar kompetensi yang sudah ditetapkan. Hal ini lebih sulit dibandingkan membuat suatu materi simakan. Kadang materi simakan sudah jadi kemudian setelah dicocokkan dengan kurikulum ternyata tidak cocok. Lebih baik kita melihat kurikulum, silabus, dan standar kompetensi dulu sebelum membuat suatu bahan simakan. Hal ini lebih baik daripada sudah membuat ternyata tidak sesuai.
Materi pembelajaran (bahan ajar) merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Secara garis besar, bahan ajar atau materi pembelajaran berisikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa.
Setelah diketahui kriteria pemilihan bahan ajar, sampailah kita pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar. Secara garis besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi pertama-tama mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Langkah ketiga memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi. Terakhir adalah memilih sumber bahan ajar.
Langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan sebagai berikut:
A. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar
1. Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.
2. Setiap aspek standar kompetensi tersebut memerlukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang berbeda-beda untuk membantu pencapaiannya.

B. Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran

Sejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur (Reigeluth, 1987).

1. Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain sebagainya.
2. Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakekat, inti isi.
3. Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigma, teorema.
4. Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut.
5. Materi pembelajaran aspek afektif meliputi: pemberian respon, penerimaan (apresisasi), internalisasi, dan penilaian.
6. Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semi rutin, dan rutin.
C. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup memadai sehingga mempermudah siswa dalam mencapai standar kompetensi.
Berpijak dari aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah memilih jenis materi yang sesuai dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut. Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya.
Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan mengajarkannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang berbeda-beda. Misalnya metode mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah dengan menggunakan “jembatan keledai”, “jembatan ingatan” (mnemonics), sedangkan metode untuk mengajarkan prosedur adalah “demonstrasi”.
Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau psikomotorik.

D. Memilih sumber bahan ajar
Setelah jenis materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan sumber bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media audiovisual, dsb.
Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan penyampaian materi pembelajaran penting diperhatikan. Ketepatan dalam menentukan cakupan, ruang lingkup, dan kedalaman materi pembelajaran akan menghindarkan guru dari mengajarkan terlalu sedikit atau terlalu banyak, terlalu dangkal atau terlalu mendalam. Ketepatan urutan penyajian (sequencing) akan memudahkan bagi siswa mempelajari materi pembelajaran.
A. Penentuan cakupan bahan ajar
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus diperhatikan apakah materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur) aspek afektif, ataukah aspek psikomotorik, sebab nantinya jika sudah dibawa ke kelas maka masing-masing jenis materi tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda.
Selain memperhatikan jenis materi pembelajaran juga harus memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya. Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan berapa banyak materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran, sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang terkandung di dalamnya harus dipelajari/dikuasai oleh siswa.
Prinsip berikutnya adalah prinsip kecukupan (adequacy). Kecukupan (adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan dalam pengertian. Cukup tidaknya aspek materi dari suatu materi pembelajaran akan sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan.
Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
B. Penentuan urutan bahan ajar
Urutan penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting untuk menentukan urutan mempelajari atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya.

Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok , yaitu: pendekatan prosedural, dan hierarkis.
1. Pendekatan prosedural.
Urutan materi pembelajaran secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas.
2. Pendekatan hierarkis
Urutan materi pembelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
Sumber bahan ajar merupakan tempat di mana bahan ajar dapat diperoleh. Dalam mencari sumber bahan ajar, siswa dapat dilibatkan untuk mencarinya. Misalnya, siswa ditugasi untuk mencari koran, majalah, hasil penelitian, dsb. Berbagai sumber dapat kita gunakan untuk mendapatkan materi pembelajaran dari setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sumber-sumber dimaksud dapat disebutkan di bawah ini:
1. Buku teks
Buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dapat dipilih untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Buku teks yang digunakan sebagai sumber bahan ajar untuk suatu jenis mata pelajaran tidak harus hanya satu jenis, apa lagi hanya berasal dari satu pengarang atau penerbit. Gunakan sebanyak mungkin buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas.
2. Laporan hasil penelitian
Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber bahan ajar yang aktual atau mutakhir.
3. Jurnal (penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah)
Penerbitan berkala yang berisikan hasil penelitian atau hasil pemikiran sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Jurnal-jurnal tersebut berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di bidangnya masing-masing yang telah dikaji kebenarannya.
4. Pakar bidang studi
Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar. Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dsb.
5. Profesional
Kalangan profesional adalah orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu.
6. Buku kurikulum
Buku kurikulm penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena berdasar kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi bahan dapat ditemukan. Hanya saja materi yang tercantum dalam kurikulum hanya berisikan pokok-pokok materi.
7. Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan.
Penerbitan berkala seperti Koran banyak berisikan informasi yang berkenaan dengan bahan ajar suatu matapelajaran. Penyajian dalam koran-koran atau mingguan menggunakan bahasa popular yang mudah dipahami. Karena itu baik sekali apa bila penerbitan tersebut digunakan sebagai sumber bahan ajar.
8. Internet
Bahan ajar dapat pula diperoleh melalui jaringan internet. Di internet kita dapat memperoleh segala macam sumber bahan ajar. Bahkan satuan pelajaran harian untuk berbagai mata pelajaran dapat kita peroleh melalui internet. Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi.
9. Media audiovisual (TV, Video, VCD, kaset audio)
Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk berbagai jenis mata pelajaran.
10. Lingkungan ( alam, sosial, senibudaya, teknik, industri, ekonomi)
Berbagai lingkungan seperti lingkungan alam, lingkungan social, lengkungan seni budaya, teknik, industri, dan lingkungan ekonomi dapat digunakan sebagai sumber bahan ajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar